Rabu, 15 Maret 2017

Studi Kasus Humas

ANALISIS KASUS INDOMIE (PT. Indofood Sukses Makmur Tbk)

Pendahuluan

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (dulunya PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Gizindo Primanusantara, PT Indosentra Pelangi, PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT Ciptakemas Abadi) (IDX: ICBP) yang didirikan pada tahun 1990 oleh  Sudono Salim dengan nama Panganjaya Intikusuma, merupakan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia.  Perusahaan ini kemudian diganti dengan nama Indofood pada tahun 1990. 
Indofood mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan Eropa dan bertransformasi menjadi sebuah perusahaan Total Food Solutions dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran.
Pada tahun 1982, perusahaan ini meluncurkan merek Sarimi yang kemudian disusul dengan Indomie, Supermi dan Pop Mie masing-masing pada tahun 1984, 1986 dan 1988 . Pada tahun 1990, Indofood merintis bisnis makanan ringan melalui anak perusahaannya Seven-Up Nederland BVperusahaan afiliasi dari PepsiCo Inc, dengan peluncuran tiga merek, Chitato, Chiki dan Jetz. Pada tahun 1992 dan 2005 merek Pepsico yang Cheetos dan Lays diperkenalkan. Pada tahun 2007 merek Qtela diluncurkan untuk menembus pasar makanan ringan tradisional. Di tahun 1991, bisnis bumbu makanan mulai dari kecap, sambal dan bumbu instan mulai dijalani. Pada tahun 2005 PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia (NICI) didirikan sebagai perusahaan patungan 50% milik Nestlé SA dengan, dengan tanggung jawab untuk pemasaran produk hanya kuliner. Pada tahun 2007 Sirup Indofood ramah diperkenalkan ke pasar.
Bisnis biskuit juga mulai dilakoni oleh Indofood sejak tahun 2005 dengan meluncurkan dua merek; Trenz dan Wonderland. Pada tahun  2011, Bim Bim merek diluncurkan untuk menembus pasar anak-anak. Indofood juga memiliki produk susu setelah akuisisinya dengan Drayton Pte. Ltd, pemilik 68,57% saham PT Indolakto, pemain terbesar kedua di pasar. Merek andalannya, Indomilk, telah hadir di Indonesia selama lebih dari empat dekade.
Sebagai Perusahaan Perintis Makanan, Indofood membawa misi untuk terus berinovasi, fokus pada kebutuhan konsumen, memberikan merk besar dengan kinerja tak tertandingi, memberikan produk berkualitas yang dicintai oleh konsumen,  terus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia,memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan, serta  terus meningkatkan pendapatan para pemegang saham.

Permasalahan
Salah satu produk terkenal dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk yaitu indomie mengalami masalah yang cukup serius di Taiwan, Kasus Indomie di Taiwan benar-benar membuat khawatir pemerintah. Indomie bukan hanya membawa nama PT Indofood Sukses Makmur Tbk namun juga membawa nama Indonesia. Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh menyampaikan kekhawatirannya jika kasus Indomie ini tidak ditangani dengan baik bisa berpeluang melebar ke negara lain atau bahkan kepada produk Indonesia lainnya di luar negeri.
            Seperti diketahui, media-media di Taiwan mengabarkan penarikan Indomie dari sejumlah supermarket. Indomie ditarik karena mengandung Methyl P-Hydroxybenzoate yang dilarang di Taiwan. Tidak hanya di Taiwan, dua jaringan supermarket terbesar di Hong Kong juga menyetop penjualan produk Indofood itu. Pemerintah Hong Kong pun akan melakukan tes uji produk Indomie.
            Namun, berdasarkan rilis resmi Indofood CBP Sukses Makmur, selaku produsen Indomie menegaskan, produk mie instan yang diekspor ke Taiwan sudah memenuhi peraturan dari Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan. BPOM juga telah menyatakan Indomie tidak berbahaya.
            Sehubungan dengan pemberitaan di media massa Taiwan baru-baru ini, mengenai kandungan bahan pengawet  E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate) dalam produk mi instan Indomie, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjelaskan bahwa produk mi instan yang diekspor oleh Perseroan ke Taiwan telah sepenuhnya memenuhi peraturan dari Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan," jelas Taufik Wiraatmadja, Direktur ICBP dalam siaran persnya.
            ICBP telah mengekspor produk mi instan ke berbagai negara di seluruh dunia selama lebih dari 20 tahun. Perseroan senantiasa berupaya memastikan bahwa produknya telah memenuhi peraturan dan ketentuan keselamatan makanan yang berlaku di berbagai negara dimana produk mi instannya dipasarkan.

Analisis Kasus
            Dari permasalahan di atas bahwa produk indomie dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk mengalami permasalahan yang cukup serius di Taiwan, permasalahan ini tidak hanya membawa citra buruk terhadap PT. Indofood Sukses Makmur Tbk namun juga membawa nama negara Indonesia, karena jelas produk ini adalah termasuk produk yang berasal dari indonesia.
            Melihat dari kasus tersebut bahwa kasus ini harus segera diselesaikan karena pihak Taiwan sudah memulangkan produk indomie ini kembali ke Indonesia. Karena menurut Taiwan produk indomie asal Indonesia ini mengandung bahan yang dilarang oleh Departemen Kesehatan Taiwan yaitu Methyl P-Hydroxybenzoate.
            Dalam penanganan kasus ini pihak PT. Indofood Sukses Makmur Tbk harus segera bertindak agar kasus ini tidak menyebar luas ke negara lain, karena tidak hanya berdampak pada perusahaan saja namun nama baik Indonesia juga ikut terkena dampaknya. Pihak perusahaan harus segera meneliti apakah benar bahan bahan dasar yang digunakan pada indomie tidak memenuhi standar aman untuk dikonsumsi, karena jika tidak segera di tangani akan menjadi masalah yang lebih serius lagi khususnya bagi perusahaan dan akan membuat nama perusahaan menjadi tercoreng dimata publik dunia maupun dalam negeri.
            Jika memang setelah diteliti bahan-bahan yang digunakan layak konsumsi pihak perusahaan harus segera membuktikan kepada publik dan pihak terkait bahwa bahan yang digunakan indomie tidak ada masalah apapun, dan untuk mengembalikan kepercayaan konsumen setianya perusahaan dapat melakukan demo produk untuk mengambil hati konsumennya kembali, yaitu mungkin dengan cara mengundang pakar kesehatan dalam maupun luar negeri serta masyarakat untuk makan bersama produk indomie secara gratis agar menaikan citra perusahaan tersebut. Sehingga masyarakat tau bahwa indomie layak untuk dikonsumsi dan tidak menggunakan bahan bahan berbahaya, jika sudah seperti kita akan tau apakah kasus indomie di taiwan benar benar masalah bahan bahan dasar atau memang hanya sekedar persaingan belaka.    

Level Perkembangan Krisis

·         masa prekrisis (predromal crisis stage)
·         masa krisis akut (acute crisis stage)
·         masa krisis kronis (chronic crisis stage)
·         masa resolusi krisis (crisis resolution stage)

Masa pre-krisis
Suatu krisis yang besar biasanya telah didahului oleh suatu pertanda bahwa bakal ada krisis yang terjadi. Masa terjadinya atau munculnya pertanda ini disebut masa pre-krisis.
Seringkali tanda-tanda ini oleh karyawan yang bertugas sudah disampaikan kepada pejabat yang berwenang, tetapi oleh pejabat yang berwenang tidak ditanggapi. Oleh karena sipelapor merasa laporannya tidak ditanggapi dia ikut diam saja. Bila keadaan yang lebih buruk terjadi dia lebih baik memilih diam daripada laporan dia tidak ditanggapi.
Kasus terjadinya kebocoran gas racun pabrik Union Carbide di Bhopal, India (terkenal dengan nama tragedy Bhopal) yang merenggut lebih dari 2000 jiwa, telah diantisipasi oleh petugas. Kebocoran yang terjadi di pabrik Union Carbide di tempat lain tidak diteruskan ke pabrik di Bhopal. Laporan yang tidak disampaikan itu menyebabkan terjadinya malapetaka tersebut.
Cukup sering terjadi, malapetaka yang besar sudah deketahui gejalanya oleh orang yang berwenang, tetapi didiamkan saja tanpa diambil tindakan. Kalau sekiranya tindakan koreksi segera diambil maka kejadian yang akibatnya fatal tersebut dapat dihindarkan. Mengatasi krisis yang paling baik adalah disaat pre-krisis ini terjadi.
Seringkali suatu krisis sudah diantisipasi bakal terjadi, namun tidak ada cara untuk menghindarinya. Misalnya kasus kapal di laut yang akan dilanda oleh topan, dan tidak ada jalan keluar kecuali menghadapi topan tersebut. Namun oleh karena sudah diantisipasi terjadinya, sang nakhoda akan lebih siap menghadapi krisis tersebut. Misalnya mengarahkan kapalnya ke batu karang. Dari contoh ini kita dapat menarik pelajaran bahwa menghadapi krisis yang tidak terelakkan bila kita sudah tahu, kita akan lebih siap.
Masa Krisis Akut (Acute stage).
Bila pre-krisis tidak dideteksi dan tidak diambil tindakan yang sesuai maka masa yang paling ditakuti akan terjadi. Kasus biskuit beracun setelah korban berjatuhan, misalnya cepat sekali mendapat sorotan media massa sebagai suatu berita yang hangat dan masuk halaman pertama. Keadaan yang demikian akan menimbulkan suasana yang paling kritis bagi perusahaan, khususnya bagi perusahaan yang produknya tercemar racun. Informasi tersebut berkembang dengan cepat dikalangan masyarakat dari mulut ke mulut. Setelah itu berkembang masalah baru berupa ‘rumor’ bahwa banyak makanan lain yang ikut tercemar.
Beberapa bahan makanan yang dilaporkan tercemar racun adalah minyak goreng, bakso, bakmi, rokok, dan beberapa jenis jajanan pasar. Memang isu keracunan ini akan merembet ke makanan yang sejenis Hal ini disebut dengan proses generalisasi. Fenomena generalisasi ini juga terjadi pada pabrik yang mempunyai cabang di tempat lain, atau pabrik yang memproduksi barang yang hampir sama.
Pada masa krisis akut ini tugas utama perusahaan adalah menarik produk secepat mungkin agar tidak ada lagi korban yang menjadi korban produk. Pada masa ini tugas perusahaan bukanlah diprioritaskan untuk mencari penyebab kenapa masalah itu terjadi. Tetapi tugas pokoknya adalah mengontrol semaksimal mungkin agar jatuhnya korban dapat ditekan.
Masa krisis akut ini jika dibandingkan dengan masa krisis kronis jauh lebih singkat. Tetapi masa akut adalah masa yang paling menegangkan dan paling melelahkan anggota tim yang menangani krisis.
Masa kronis krisis.
Masa ini adalah masa pembersihan akibat dari krisis akut. Masa ini adalah masa ‘recovery’, masa mengintrospeksi kenapa krisis sampai terjadi. Masa ini bagi mereka yang gagal total menangani krisis adalah masa kegoncangan manajemen atau masa kebangkrutan perusahaan. Bagi mereka yang bisa menangani krisis dengan baik ini adalah masa yang menenangkan.
Masa kronis berlangsung panjang, tergantung pada jenis krisis. Masa kronis adalah masa pengembalian kepercayaan publik terhadap perusahaan. Kasus produk indomie dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk merupakan masa kronis krisis, dimana perusahaan harus mengintropeksi diri kenapa krisis sampai terjadi, manajemen perusahaan harus mencari tau apa permasalahan yang sebenarnya mendatangkan krisis pada perusahaan jika tidak cepat mengambil tindakan maka akan membawa perusahaan  pada masa kebangkrutan.
Masa kesembuhan dari krisis.
Masa ini adalah masa perusahaan sehat kembali seperti keadaan sediakala. Pada fase ini perusahaan akan semakin sadar bahwa krisis dapat terjadi sewaktu-waktu dan lebih mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Kesimpulan
Dalam kasus di atas sebaiknya jika belum ada bukti yang jelas apakah benar produk indomie mengandung zat yang tidak layak konsumsi, pihak taiwan sebaiknya jangan mengambil keputusan secepat itu untuk mengembalikan produk indomie, ada baiknya jika berunding dan membuktikan antara dua pihak terkait masalah ini sehingga tidak menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Kelas 3 Humas
NPM : 201423063



Rabu, 24 Juni 2015

Tilt Up

Pergerakan kamera dengan kepala kamera digerakkan keatas (mengadah/mendongak keatas) dengan posisi kamera tetap ditempat.