ANALISIS KASUS INDOMIE (PT. Indofood Sukses Makmur Tbk)
Pendahuluan
PT Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk. (dulunya PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Gizindo
Primanusantara, PT Indosentra Pelangi, PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT
Ciptakemas Abadi) (IDX: ICBP) yang didirikan pada tahun 1990 oleh Sudono
Salim dengan nama Panganjaya Intikusuma, merupakan produsen berbagai jenis
makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini
kemudian diganti dengan nama Indofood pada tahun 1990.
Indofood
mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan Eropa dan
bertransformasi menjadi sebuah perusahaan Total Food Solutions dengan kegiatan
operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari
produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di
rak para pedagang eceran.
Pada tahun
1982, perusahaan ini meluncurkan merek Sarimi yang kemudian disusul dengan
Indomie, Supermi dan Pop Mie masing-masing pada tahun 1984, 1986 dan 1988 .
Pada tahun 1990, Indofood merintis bisnis makanan ringan melalui anak
perusahaannya Seven-Up Nederland BVperusahaan afiliasi dari PepsiCo Inc, dengan
peluncuran tiga merek, Chitato, Chiki dan Jetz. Pada tahun 1992 dan 2005 merek
Pepsico yang Cheetos dan Lays diperkenalkan. Pada tahun 2007 merek Qtela
diluncurkan untuk menembus pasar makanan ringan tradisional. Di tahun 1991,
bisnis bumbu makanan mulai dari kecap, sambal dan bumbu instan mulai dijalani.
Pada tahun 2005 PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia (NICI) didirikan sebagai
perusahaan patungan 50% milik Nestlé SA dengan, dengan tanggung jawab untuk
pemasaran produk hanya kuliner. Pada tahun 2007 Sirup Indofood ramah
diperkenalkan ke pasar.
Bisnis biskuit
juga mulai dilakoni oleh Indofood sejak tahun 2005 dengan meluncurkan dua
merek; Trenz dan Wonderland. Pada tahun 2011, Bim Bim merek diluncurkan
untuk menembus pasar anak-anak. Indofood juga memiliki produk susu setelah
akuisisinya dengan Drayton Pte. Ltd, pemilik 68,57% saham PT Indolakto, pemain
terbesar kedua di pasar. Merek andalannya, Indomilk, telah hadir di Indonesia
selama lebih dari empat dekade.
Sebagai
Perusahaan Perintis Makanan, Indofood membawa misi untuk terus berinovasi,
fokus pada kebutuhan konsumen, memberikan merk besar dengan kinerja tak tertandingi,
memberikan produk berkualitas yang dicintai oleh konsumen, terus
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia,memberikan kontribusi bagi
kesejahteraan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan, serta terus
meningkatkan pendapatan para pemegang saham.
Permasalahan
Salah satu produk terkenal dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk yaitu
indomie mengalami masalah yang cukup serius di Taiwan, Kasus Indomie di Taiwan benar-benar membuat khawatir pemerintah. Indomie
bukan hanya membawa nama PT Indofood Sukses Makmur Tbk namun juga membawa nama
Indonesia. Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy
Saleh menyampaikan kekhawatirannya jika kasus Indomie ini tidak ditangani
dengan baik bisa berpeluang melebar ke negara lain atau bahkan kepada produk
Indonesia lainnya di luar negeri.
Seperti diketahui,
media-media di Taiwan mengabarkan penarikan Indomie dari sejumlah supermarket.
Indomie ditarik karena mengandung Methyl P-Hydroxybenzoate yang dilarang di
Taiwan. Tidak hanya di Taiwan, dua jaringan supermarket terbesar di Hong Kong
juga menyetop penjualan produk Indofood itu. Pemerintah Hong Kong pun akan
melakukan tes uji produk Indomie.
Namun, berdasarkan
rilis resmi Indofood CBP Sukses Makmur, selaku produsen Indomie menegaskan,
produk mie instan yang diekspor ke Taiwan sudah memenuhi peraturan dari
Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan. BPOM juga telah menyatakan
Indomie tidak berbahaya.
Sehubungan dengan
pemberitaan di media massa Taiwan baru-baru ini, mengenai kandungan bahan
pengawet E218 (Methyl P-Hydroxybenzoate) dalam produk mi instan Indomie,
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjelaskan bahwa produk mi instan
yang diekspor oleh Perseroan ke Taiwan telah sepenuhnya memenuhi peraturan dari
Departemen Kesehatan Biro Keamanan Makanan Taiwan," jelas Taufik
Wiraatmadja, Direktur ICBP dalam siaran persnya.
ICBP telah mengekspor
produk mi instan ke berbagai negara di seluruh dunia selama lebih dari 20
tahun. Perseroan senantiasa berupaya memastikan bahwa produknya telah memenuhi
peraturan dan ketentuan keselamatan makanan yang berlaku di berbagai negara
dimana produk mi instannya dipasarkan.
Analisis Kasus
Dari permasalahan di
atas bahwa produk indomie dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk mengalami permasalahan
yang cukup serius di Taiwan, permasalahan ini tidak hanya membawa citra buruk
terhadap PT. Indofood Sukses Makmur Tbk namun juga membawa nama negara
Indonesia, karena jelas produk ini adalah termasuk produk yang berasal dari
indonesia.
Melihat dari kasus
tersebut bahwa kasus ini harus segera diselesaikan karena pihak Taiwan sudah
memulangkan produk indomie ini kembali ke Indonesia. Karena menurut Taiwan
produk indomie asal Indonesia ini mengandung bahan yang dilarang oleh
Departemen Kesehatan Taiwan yaitu Methyl P-Hydroxybenzoate.
Dalam penanganan kasus
ini pihak PT. Indofood Sukses Makmur Tbk harus segera bertindak agar kasus ini
tidak menyebar luas ke negara lain, karena tidak hanya berdampak pada
perusahaan saja namun nama baik Indonesia juga ikut terkena dampaknya. Pihak
perusahaan harus segera meneliti apakah benar bahan bahan dasar yang digunakan
pada indomie tidak memenuhi standar aman untuk dikonsumsi, karena jika tidak
segera di tangani akan menjadi masalah yang lebih serius lagi khususnya bagi
perusahaan dan akan membuat nama perusahaan menjadi tercoreng dimata publik
dunia maupun dalam negeri.
Jika memang setelah
diteliti bahan-bahan yang digunakan layak konsumsi pihak perusahaan harus
segera membuktikan kepada publik dan pihak terkait bahwa bahan yang digunakan
indomie tidak ada masalah apapun, dan untuk mengembalikan kepercayaan konsumen
setianya perusahaan dapat melakukan demo produk untuk mengambil hati
konsumennya kembali, yaitu mungkin dengan cara mengundang pakar kesehatan dalam
maupun luar negeri serta masyarakat untuk makan bersama produk indomie secara
gratis agar menaikan citra perusahaan tersebut. Sehingga masyarakat tau bahwa
indomie layak untuk dikonsumsi dan tidak menggunakan bahan bahan berbahaya,
jika sudah seperti kita akan tau apakah kasus indomie di taiwan benar benar
masalah bahan bahan dasar atau memang hanya sekedar persaingan belaka.
Level Perkembangan
Krisis
·
masa prekrisis (predromal crisis stage)
·
masa krisis akut (acute crisis stage)
·
masa krisis kronis (chronic crisis stage)
·
masa resolusi krisis (crisis resolution stage)
Masa pre-krisis
Suatu krisis yang besar biasanya telah didahului
oleh suatu pertanda bahwa bakal ada krisis yang terjadi. Masa terjadinya atau
munculnya pertanda ini disebut masa pre-krisis.
Seringkali tanda-tanda ini oleh karyawan yang
bertugas sudah disampaikan kepada pejabat yang berwenang, tetapi oleh pejabat
yang berwenang tidak ditanggapi. Oleh karena sipelapor merasa laporannya tidak
ditanggapi dia ikut diam saja. Bila keadaan yang lebih buruk terjadi dia lebih
baik memilih diam daripada laporan dia tidak ditanggapi.
Kasus terjadinya kebocoran gas racun pabrik Union
Carbide di Bhopal, India (terkenal dengan nama tragedy Bhopal) yang merenggut
lebih dari 2000 jiwa, telah diantisipasi oleh petugas. Kebocoran yang terjadi
di pabrik Union Carbide di tempat lain tidak diteruskan ke pabrik di Bhopal. Laporan
yang tidak disampaikan itu menyebabkan terjadinya malapetaka tersebut.
Cukup sering terjadi, malapetaka yang besar sudah
deketahui gejalanya oleh orang yang berwenang, tetapi didiamkan saja tanpa
diambil tindakan. Kalau sekiranya tindakan koreksi segera diambil maka kejadian
yang akibatnya fatal tersebut dapat dihindarkan. Mengatasi krisis yang paling
baik adalah disaat pre-krisis ini terjadi.
Seringkali suatu krisis sudah diantisipasi bakal
terjadi, namun tidak ada cara untuk menghindarinya. Misalnya kasus kapal di
laut yang akan dilanda oleh topan, dan tidak ada jalan keluar kecuali
menghadapi topan tersebut. Namun oleh karena sudah diantisipasi terjadinya,
sang nakhoda akan lebih siap menghadapi krisis tersebut. Misalnya mengarahkan
kapalnya ke batu karang. Dari contoh ini kita dapat menarik pelajaran bahwa
menghadapi krisis yang tidak terelakkan bila kita sudah tahu, kita akan lebih
siap.
Masa Krisis Akut (Acute stage).
Bila pre-krisis tidak dideteksi dan tidak diambil
tindakan yang sesuai maka masa yang paling ditakuti akan terjadi. Kasus biskuit
beracun setelah korban berjatuhan, misalnya cepat sekali mendapat sorotan media
massa sebagai suatu berita yang hangat dan masuk halaman pertama. Keadaan yang
demikian akan menimbulkan suasana yang paling kritis bagi perusahaan, khususnya
bagi perusahaan yang produknya tercemar racun. Informasi tersebut berkembang
dengan cepat dikalangan masyarakat dari mulut ke mulut. Setelah itu berkembang
masalah baru berupa ‘rumor’ bahwa banyak makanan lain yang ikut tercemar.
Beberapa bahan makanan yang dilaporkan tercemar
racun adalah minyak goreng, bakso, bakmi, rokok, dan beberapa jenis jajanan
pasar. Memang isu keracunan ini akan merembet ke makanan yang sejenis Hal ini
disebut dengan proses generalisasi. Fenomena generalisasi ini juga terjadi pada
pabrik yang mempunyai cabang di tempat lain, atau pabrik yang memproduksi
barang yang hampir sama.
Pada masa krisis akut ini tugas utama perusahaan
adalah menarik produk secepat mungkin agar tidak ada lagi korban yang menjadi
korban produk. Pada masa ini tugas perusahaan bukanlah diprioritaskan untuk
mencari penyebab kenapa masalah itu terjadi. Tetapi tugas pokoknya adalah
mengontrol semaksimal mungkin agar jatuhnya korban dapat ditekan.
Masa krisis akut ini jika dibandingkan dengan masa
krisis kronis jauh lebih singkat. Tetapi masa akut adalah masa yang paling
menegangkan dan paling melelahkan anggota tim yang menangani krisis.
Masa kronis krisis.
Masa ini adalah masa pembersihan akibat dari krisis
akut. Masa ini adalah masa ‘recovery’, masa mengintrospeksi kenapa krisis
sampai terjadi. Masa ini bagi mereka yang gagal total menangani krisis adalah
masa kegoncangan manajemen atau masa kebangkrutan perusahaan. Bagi mereka yang
bisa menangani krisis dengan baik ini adalah masa yang menenangkan.
Masa kronis berlangsung panjang, tergantung pada
jenis krisis. Masa kronis adalah masa pengembalian kepercayaan publik terhadap
perusahaan. Kasus produk indomie dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk merupakan
masa kronis krisis, dimana perusahaan harus mengintropeksi diri kenapa krisis
sampai terjadi, manajemen perusahaan harus mencari tau apa permasalahan yang
sebenarnya mendatangkan krisis pada perusahaan jika tidak cepat mengambil
tindakan maka akan membawa perusahaan
pada masa kebangkrutan.
Masa kesembuhan dari krisis.
Masa ini adalah masa perusahaan sehat kembali
seperti keadaan sediakala. Pada fase ini perusahaan akan semakin sadar bahwa
krisis dapat terjadi sewaktu-waktu dan lebih mempersiapkan diri untuk
menghadapinya.
Kesimpulan
Dalam kasus di atas sebaiknya jika belum ada bukti
yang jelas apakah benar produk indomie mengandung zat yang tidak layak
konsumsi, pihak taiwan sebaiknya jangan mengambil keputusan secepat itu untuk
mengembalikan produk indomie, ada baiknya jika berunding dan membuktikan antara
dua pihak terkait masalah ini sehingga tidak menimbulkan pro dan kontra di
kalangan masyarakat.
Kelas 3 Humas
NPM : 201423063